Appron

Stres dan Hubungannya Dengan Perilaku Makan

Stres adalah gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Tekanan ini muncul dari kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Tekanan ini bisa berasal dari dalam diri, atau dari luar. Apakah Anda tipe orang yang suka makan saat stres, atau justru jadi tidak nafsu makan saat sedang banyak pikiran? Memang, perilaku makan saat stres dapat berubah dengan berbagai cara. Tiap individu mempunyai caranya sendiri untuk merespon stres yang dialaminya. Namun, kebanyakan individu merespon stres dengan cara makan lebih banyak dari biasanya. Mengapa demikian?

Hubungan antara stres dengan perilaku makan
Dilansir dari hellosehat.com,pada saat stres, orang-orang biasanya mencari makanan yang mengandung kalori tinggi atau lemak tinggi. Padahal, saat Anda stres, tubuh Anda juga bisa menyimpan lebih banyak lemak. Sehingga, stres, asupan makan yang meningkat, dan penyimpanan lemak yang lebih banyak bisa menyebabkan Anda mengalami kelebihan berat badan.

Banyak orang dewasa menyatakan bahwa mereka adalah golongan orang yang makan saat stres, alias lebih banyak makan atau makan makanan yang tidak sehat saat dirinya merasa stres. Menurutnya, perilaku makan seperti ini membuat dirinya lebih bisa menghadapi stres yang ia rasakan. Beberapa lainnya juga melaporkan bahwa ia makan untuk membantu mengelola stresnya. Rupanya, stres memang sangat berpengaruh pada perilaku makan Anda, mulai dari nafsu untuk makan, banyaknya makanan yang Anda ambil, sampai pemilihan makanan Anda.

Stres dapat mengganggu keseimbangan pada tubuh. Sehingga, tubuh akan bereaksi terhadap stres untuk mengembalikan keseimbangannya dengan cara menghasilkan respon fisiologis. Salah satu keseimbangan tubuh yang terganggu saat Anda stres adalah fisiologis tubuh yang berhubungan dengan asupan makan.

Bagaimana stres bisa mengubah perilaku makan?
Perilaku makan seseorang bisa berubah untuk merespon stres. Hal ini tergantung dari seberapa besar stres yang sedang Anda rasakan. Terdapat dua jenis stres, yaitu:

Stres akut, di mana stres terjadi hanya sementara – dalam waktu yang tidak lama. Misalnya saja, stres karena kemacetan di jalan. Anda dapat dengan mudah menangani stres ini. Saat Anda mengalami stres akut, bagian medular otak memberikan sinyal untuk melepaskan beberapa hormon stres, seperti epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin) dari kelenjar adrenal. Hormon-hormon ini kemudian memicu respon “fight-or-flight”, seperti peningkatan detak jantung, pernapasan, pemecahan lemak dan karbohidrat, serta tekanan darah. Pada waktu yang sama, tubuh memperlambat kerja fisiologisnya, seperti aliran darah ke sistem pencernaan, nafsu makan, dan asupan makan. Jadi, pada saat stres akut, Anda lebih mungkin untuk kehilangan nafsu makan Anda.

Stres kronis, saat Anda mengalami masalah yang besar yang menyangkut kehidupan Anda dan lebih sulit untuk Anda tangani. Stres ini bisa berlangsung lebih lama. Jika stres kronis cukup berat dan berlangsung cukup lama, maka dapat mengakibatkan hormon kortisol meningkat, di mana hormon ini dapat merangsang nafsu makan selama periode pemulihan dari stres kronis. Oleh karena itu, pada orang dengan stres berat, nafsu makannya akan meningkat sehingga ia makan lebih banyak, ia akan melihat makanan sebagai objek yang dapat memberinya ketenangan.
Stres dapat memengaruhi pemilihan makan

Stres tampaknya juga memengaruhi pemilihan makan. Pada saat stres, Anda lebih mungkin untuk memilih makanan dengan kandungan kalori tinggi, sehingga hal ini juga dapat berkontribusi pada kenaikan berat badan saat stres. Makanan yang mengandung kadar lemak dan atau gula tinggi mungkin akan memberi kesenangan tersendiri bagi orang yang sedang menghadapi stres.

Kadar hormon kortisol dikombinasikan dengan insulin yang tinggi mungkin berperan dalam pemilihan makan ini. Penelitian lain menunjukkan bahwa ghrelin (hormon yang memicu rasa lapar) dapat menyebabkan hal ini. Teori lain juga mengatakan bahwa lemak dan gula tampaknya memiliki dampak yang dapat menghambat aktivitas bagian otak yang menghasilkan dan memproses stres.

Penelitian oleh Dallman (2005) menunjukkan bahwa individu dengan kelebihan berat badan cenderung makan lebih banyak saat mengalami stres kronis dibandingkan dengan individu yang mempunyai berat badan normal atau kurus. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang yang menjalani diet atau yang sering menahan diri untuk makan lebih mungkin untuk makan lebih banyak saat stres daripada orang yang tidak diet atau tidak membatasi asupan makannya.

Jadi, stres dapat memengaruhi perilaku makan dalam dua cara. Sebagian kecil mungkin akan kehilangan nafsu makan saat mengalami stres dalam waktu singkat. Sedangkan, sebagian besar individu akan merespon stres dengan meningkatkan asupan makannya selama stres berat.

Dallman MF. 2010. Stress-induced obesity and the emotional nervous system. Trends in Endocrinology & Metabolism. 21(3):159-65.

Espel E, Lapidus R, McEwens B, Brownell K. 2001. Stress may add bite to appetite in women: a laboratory study of stress-induced cortisol and eating behavior. Psychoneuroendocrinology 26 : 37–49

Wegner DM. 2009. How to think, say, or do precisely the worst thing for any occasion. Science. 325:48–50

Add comment

Follow Us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Dapur Appron!

Sign up for delicious recipes.
SIGN UP
Close